Paradigma Makna Perceraian

Paradigma Makna Perceraian
Oleh : Drs. Zulkarnain Lubis, M.H. (Ketua Pengadilan Agama Simalungun)

Hadis Rasul yang berbunyi “Perbuatan halal yang sangat dibenci Allah adalah thalaq (cerai)” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) sering kali didengar dalam persidangan penasehatan perkara perceraian atau dalam mediasi. Sementara itu data menunjukkan bahwa angka perceraian terus meningkat di hampir setiap Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar’iyah di seluruh Indonesia, terlebih lagi di daerah Jawa. Mediasi tidak begitu berhasil mengurangi perceraian. Ribuan kali perceraian terjadi, ribuan kali pula Allah membencinya.

Benarkah Allah membenci semua perceraian? Membencikah Allah terhadap perceraian karena istri tertindas karena sering dipukuli suami, istri yang ingin memperjuangkan kehormatannya, masa depan anak-anaknya padahal Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang terzalimi?

Berdasarkan pertanyaan tersebut menarik mengkaji nilai filosofis dari hadis tersebut yang termasuk unik dan kontroversial dalam pengertian. Satu-satunya perbuatan yang dihalalkan tapi dibenci Allah adalah talak. Idealnya sesuatu yang dibenci oleh Sang Khalik adalah diharamkan-Nya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya atau setidaknya makruh. Hadis tersebut sering dijadikan hujjah untuk membangun paradigma hukum perceraian.

Penulis sendiri melihat ada beberapa paradigma yang sering dibangun dari hadis tersebut yang selama ini sering menjadi pijakan dalam menjustifikasi makna dan hakikat sebuah perceraian.

Pertama, perkawinan meski sebuah ikatan yang sangat sakral secara hukum syar’i tetap saja bisa putus meskipun akibatnya sampai menggetarkan arasy Tuhan, sebagaimana disebut dalam suatu hadis lain. Meskipun sebagian ulama mengatakan hadist tersebut maudhu’. Hal ini berarti di dalam Islam perkawinan seumur hidup itu tidak pernah ada, tidak ada perkawinan yang abadi. Setiap orang tidak dapat diikat hanya dengan satu perkawinan. Jika memang tak dapat dipertahankan perkawinan boleh diputuskan tanpa menunggu adanya hal yang darurat. Karena perkawinan masalah hati dua manusia yang kapan saja bisa tak lagi ada persesuaian. Mungkin sebelum menikah cocok tapi akibat perjalanan waktu bisa menjadi tak cocok lagi dengan berbagai sebab dan latar belakang.

Kedua, pernikahan dari awalnya adalah pilihan manusia kepada siapa dia kehendaki untuk mengikatkan dirinya, apakah kepada orang yang beriman, kepada orang yang bagus penampilannya, nasabnya meskipun akhlaknya kurang baik, apakah karena derajat kebangsawanannya. Allah tidak pernah memaksakan kepada siapa seseorang harus memilih pasangan hidupnya hingga akhir hayatnya. Yang ada hanyalah hadis Rasul yang mengatakan bahwa pilihan yang terbaik adalah karena agamanya. Tetapi di dalam kehidupan dunia tidak semua orang mampu menjalankan perkawinan dengan baik. Hakikatnya bahwa Allah menyerahkan secara penuh kepada ikhtiar manusia siapa yang akan menjadi pasangannya, karena persoalan kecondongan hati manusia Allah tidak terlalu “mencampuri”. Pandangan ini condong kepada teologi muktazilah yang menafikan adanya takdir. Jodoh tetap di tangan manusia.

baca artikel selanjutnya

 

 

Tags:
Informasi SMS Perkara
Rate this article!