Ijtihad dan Pengembangan Hukum Islam

Artikel Peradilan 0

Ijtihad dan Pengembangan Hukum Islam
oleh Hj. St. Zubaidah, S.Ag., S.H., M.H. (Hakim Pengadilan Agama Rantau)

Ijtihad adalah upaya sekuat tenaga yang dilakukan oleh ulama yang kompeten dan kapabel dengan menggunakan nalarnya untuk menemukan hukum atas problema baru tanpa meninggalkan nilai-nilai yang terdapat dalam sumber utama hukum Islam. Ijtihad dengan berbagai metodenya baik istishlah, istishab, maslahah mursalah, sadz dzari’ah, istihsan dan lainnya merupakan sebuah instrumen penemuan hukum dalam tatanan Hukum Islam yang membuktikan kemampuan dan elastisitas Hukum Islam dalam mengantisipasi perubahan dan kemajuan sosial sehingga dengan adanya instrumen ijtihad ini, hukum Islam diharapkan dapat lebih memberikan kontribusinya dalam pengembangan Hukum Nasional di Indonesia. Oleh karena itu, dalam ruang pembaruan hukum Islam, Ijtihad perlu dilaksanakan secara terus-menerus guna mengantisipasi dan mengisi kekosongan hukum terutama pada zaman modern seperti sekarang dimana perubahan dan kemajuan terjadi dengan sangat pesat.

Banyak Ulama yang mendefinisikan ijtihad dengan pendapatnya masing-masing mulai dari Syafi’i, Syaukani, Ibnu al Qayyim al Jauzi sampai kepada Qordlowi dan Toha Jabir al ‘Alwani, hemat penulis akan mengambil efinisinya
Sayyid Tontowi yang amat ringkas tapi padat yaitu: Ijtihad adalah usaha seorang muslim dengan seluruh kemampuannya untuk menghasilkan hukum syara’ dengan cara mengambil dalil dari dalil-dalil syar’i. Sedangkan sandaran ijtihad dapat ditemukan dalam al Quran maupun al-hadits.

Ijtihad adalah merupakan kewajiban bagi umat islam, apakah pantas bagi umat islam untuk meninggalkannya dengan alasan terlalu banyaknya sarat yang mustahil disanggupi oleh seseorang, sebenarnya syarat tersebut adalah bukan untuk menyulitkan umat islam seperti yang diungkapkan oleh orang yang dengan sengaja menutup pintu ijtihad. Rasyid Ridla dalam tafsir al Mannar berkata : Ijtihad adalah bukan merupakan hal yang sulit dan tidak membutuhkan sesuatu yang merepotkan dan menyulitkan seperti orang-orang yang ingin mendapatkan gelar ilmu yang tinggi dalam ilmu kedokteran, falsafah atau yang lainnya.

Seorang muslim dengan kebebasan berpikirnya untuk mengerahkan segala kemampuannya terhadap seluruh masalah, sebab islam adalah agama kehidupan yang mencakup segala aspek, Islam bukan hanya berurusan dengan masalah akhirat saja, tapi Islam lahir dalam bentuk yang luas, mampu mengobati penyakit sosial, ekonomi, internasional, dll, dan fiqih sendiri bukan hanya merupakan peraturan belaka, melainkan fiqih mencakup segala masalah tergantung kejadian dan kebutuhan, fiqih masih siap menerima perubahan selama masih tetap dalam rel qur’an dan sunnah, dari sinilah perlu adanya ijtihad, Ijtihad merupakan hal yang terbuka bagi seorang muslim agar merasakan kebebasan berfikir yang sempurna karena ijtihad adalah merupakan sebuah bukti akan luas dan mudahnya syariat Islam.

Kalau memang ijtihad dibutuhkan pada setiap zaman maka pada zaman modern inilah ijtihad paling dibutuhkan sebab berubahnya keadaan kehidupan setelah adanya revolusi teknologi maka merupakan keharusan untuk membuka kembali pintu ijtihad yang memang sebenarnya tidak pernah ditutup. Ijtihad zaman modern haruslah mengarah kepada masalah-masalah yang baru dan problematika kekinian, untuk mencari solusi masalah tersebut menurut al-Qur’an dan sunnah.

Dengan ini maka layak kiranya untuk meninjau kembali ijtihad zaman dahulu, agar ijtihad tersebut dapat layak kembali di zaman sekarang, atau setidak-tidaknya ijtihad tersebut tidak menganggur sia-sia, menurut porsi problematika kekinian. Layaknya ijtihad zaman sekarang ditelorkan dengan segenap kebebasan keberanian dan kemudahan menghindari segala masalah yang menyulitkan, maka dari itu haruslah ada ijtihad individual karena ijtihad itulah yang mencerahi segala macam ijtihad, dan memang sebenarnya segala macam ijtihad sumbernya adalah ijtihad individual. Ijtihad yang di dengung-dengingkan ada zaman sekarang ini adalah merupakan kebutuhan bahkan merupakan kewajiban bagi kehidupan umat islam untuk mengobati problematika kekinian sebab umat islam akan hidup jumud kalau tidak di berantas dengan ijtihad.

ijtihad memiliki peranan yang sangat besar dalam pembaruan hukum Islam. Pembaruan tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa ada mujtahid yang memenuhi syarat untuk melaksanakannya. Antara pembaruan dan ijtihad ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, saling mengisi dan melengkapi. Jika proses ijtihad dapat dilaksanakan dalam proses pembaharuan hukum Islam secara benar, maka hukum-hukum yang dihasilkan dari proses ijtihad akan benar pula.

Dzajuli menyebutkan ada tiga macam cara yang dapat dilakukan dalam berijtihad, yaitu: pertama, dengan memperhatikan kaidah-kaidah bahasa (linguistik). Kedua, dengan menggunakan kaidah qiyas (analogi) dengan memperhatikan asal, cabang, hukum asal dan illat hukum. Ketiga, dengan memperhatikan semangat ajaran Islam atau roh syari’ah. Oleh karena itu, dalam hal ini, kaidah-kaidah kulliyah Ushul Fiqh, kaidah-kaidah kulliyyah fiqhiyyah, prinsip-prinsip umum hukum Islam dan dalil-dalil kulli sangat menentukan. Dalam hal ini bisa menempuh cara-cara istishlah, istishab, maslahah mursalah, sadz dzari’ah, istihsan dan sebagainya.

Baca artikel selanjutnya

 

sumber : badilag.mahkamahagung.go.id

 

 

Informasi SMS Perkara
Rate this article!